Senin, 25 Juni 2012

Bahan Khotbah Minggu (01 Juli 2012)









MINGGU               :  01 JULI 2012.
BACAAN              :  KELUARAN 35 : 4 - 35
TEMA                    :  BERILAH KARENA HATIMU BERSYUKUR
PENULIS              :  Y. NUMBERI, S.TH






Jemaat Tuhan, Mengapa kita diajarkan untuk memberi persembahan? Dan bagaimana cara yang tepat dalam memberikan persembahan kita kepada Tuhan?
Bagian Firman Tuhan yang baru saja kita baca adalah merupakan sebuah kisah tentang bagaimana umat Israel ketika berada di padang gurun membangun kemah suci untuk kebaktian/beribadah kepada Tuhan. Di dalam kisah yang kita baca tadi terurai dengan jelas  tentang bagaimana Musa menyuruh umat Israel untuk memberikan persembahan khusus dari apa yang mereka miliki untuk dipakai sebagai perkakas dalam pembuatan kemah suci dan perhiasan-perhiasan kemah tersebut dan bagaimana umat merespons anjuran Musa itu. Ketika Musa menyuruh bangsa itu untuk mempersembahkan persembahan khusus dari apa yang mereka miliki, kita tidak menemukan kalimat yang mengharuskan umat itu untuk wajib menyumbang, tetapi yang kita temui adalah semacam imbauan saja; setiap orang yang terdorong hatinya harus membawanya sebagai persembahan khusus kepada Tuhan” (ayat 5). Itu artinya bahwa dalam hal memberi persembahan kepada Tuhan yang dituntut oleh Tuhan melalui Musa adalah kerelaan untuk memberi. Jadi tidak ada paksaan …”orang Israel membawanya sebagai persembahan sukarela!” (ayat 29). Ketika bangsa itu mendengar perintah dan petunjuk Musa, maka pada ayat 21 dikatakan bahwa “sesudah itu datanglah orang yang tergerak hatinya. Setiap orang yang terdorong jiwanya membawa persembahan khusus kepada Tuhan…” Persembahan yang mereka bawa itu bermacam-macam. ada yang membawa perhiasan dari emas, perak, tembaga, kain yang berwarna-warni, bulu dan kulit hewan, kayu, minyak dan rempah-rempah serta masih banyak lagi persembahan-persembahan khusus yang mereka persembahkan kepada Tuhan. Selain itu, mereka juga mempersembahkan tenaga dan keahlian mereka untuk mendirikan rumah Tuhan dan membuat pula segala bentuk peralatan di dalamnya. Jadi, mereka selain mempersembahkan harta bendanya kepada Tuhan, mereka pun juga mempersembahkan keahlian sebagai tukang bangunan dan keahlian lainnya untuk membangun rumah Tuhan. Tentu semua itu mereka persembahkan tanpa dibayar. Semuanya bersifat SUKARELA!
Jemaat yang dikasihi Tuhan, dari pembacaan Alkitab kita hari ini tentang persembahan bangsa Israel untuk mendirikan Kemah Suci, ada beberapa hal yang patut kita catat :
Pertama, Umat Israel diminta untuk memberikan persembahan syukur mereka kepada Tuhan dari apa yang mereka miliki dan bukan dari apa yang bukan milik mereka. Hal ini merupakan elemen dasar yang sangat penting dalam hal memberikan persembahan kepada Tuhan. Tuhan tidak menginginkan umat-Nya untuk memberikan sesuatu kepada-Nya sebagai persembahan dari hasil curian, korupsi, rampasan atau tindakan-tindakan lainnya yang tidak sah untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Dalam bagian inipun kita temukan, bahwa Tuhan menghendaki persembahan yang diberikan oleh umat-Nya kepada-Nya harus memiliki nilai kejujuran dan keterbukaan.
Kedua, Umat Israel diminta untuk memberikan persembahannya dengan sukarela. Hal ini merupakan elemen kedua yang harus menjadi dasar dari pemberian persembahan umat. Tuhan tidak menghendaki umat-Nya untuk memberikan persembahan karena terpaksa atau Tuhan tidak menghendaki umat-Nya untuk memberikan persembahan kepada-Nya oleh karena ritual belaka, Tuhan pun tidak menuntut jumlah, tetapi  hati dan jiwa yang rela untuk memberi kepada-Nya yang Ia tuntut dari umat-Nya.
Ketiga, Umat Israel diminta untuk memberikan persembahan kepada Tuhan oleh karena hati yang bersyukur. Pada bagian ini sesungguhnya adalah merupakan bagian yang paling hakiki dari ungkapan iman umat atas kasih sayang, pemeliharaan, tuntunan, serta berbagai berkat Tuhan yang dialami mereka sepanjang perjalanan hidup mereka. Hal ini sesungguhnya yang paling utama dalam mewujudkan sebuah persembahan kepada Tuhan. Sebab tidak mungkin seseorang memberikan persembahan kepada Tuhan tanpa didasari atas rasa syukur kepada Tuhan. Kalau hal ini tidak terjadi, maka sia-sialah sebuah persembahan yang diberikan. Sebab persembahan adalah wujud nyata dari ungkapan iman dan rasa syukur kepada Tuhan.
Jemaat yang dikasihi Tuhan, di dalam ke-Kristenan, kita mengenal berbagai bentuk persembahan kepada Tuhan. Ada persembahan yang kita berikan dalam bentuk ucapan syukur, persepuluhan, kolekte dan lain-lainnya yang isinya semuanya adalah uang atau barang. Ada juga yang memberikann persembahannya tenaga, pikiran, keahlian dan lain sebagainya. Yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah bahwa ketika kita memberikan persembahan-persembahan syukur kita kepada Tuhan, apakah didasari oleh ketiga hal di atas, yakni memberikan persembahan syukur dari apa yang ada pada kita, dengan hati yang rela dan hati yang bersyukur? Ataukah sebaliknya? Cobalah kita jujur pada diri kita, sudah benarkah persembahan syukur yang selalu kita berikan kepada Tuhan sudahkah berkenan bagi Dia?
Pemazmur berkata: "Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan segala kebajikan-Nya kepadaku?" (Maz. 116: 12). Sebagai orang percaya yang telah menerima kehidupan, keselamatan, dan berkat-berkat-Nya, kita mungkin juga bertanya: bagaimana membalas segala kebaikan Tuhan itu? Mungkin kita akan mengatakan bahwa membalas kebaikan Tuhan yang penting adalah mensyukurinya; atau berkata secara klise: "ya, dengan memberikan uang di gereja, atau hidup kita kepada-Nya." Tentu saja itu baik, tapi tidak cukup jelas. Sebab pertanyaan yang muncul adalah: uang dengan nilai iman yang bagaimana? Atau hidup yang mana dan bagaimana caranya?  Saudara-saudari jemaat,  Pemberian atau persembahan yang dimaksudkan juga tentu tidak hanya dalam bentuk uang, yang lazim disebut sebagai uang persembahan, tetapi juga dalam segala wujud persembahan yang dapat kita berikan kepada-Nya sebagai ungkapan syukur atas kebaikan-Nya. Pertanyaannya: persembahan apa saja itu?
Alkitab mengenal berbagai bentuk persembahan. Ritual pemberian persembahan sendiri di dalam Alkitab diawali ketika Kain dan Habel mempersembahkan hasil pekerjaannya kepada Allah. Kain mempersembahkan sebagian hasil pertaniannya dan Habel mempersembahkan anak sulung hasil peternakannya. Alkitab menjelaskan, persembahan Habel diterima dan Allah mengindahkannya, sementara persembahan Kain tidak berkenan kepada Allah. Kain kemudian merasa benci kepada adiknya itu dan lalu membunuhnya (Kej. 4: 5 - 8).
Kemudian kitab Kejadian menceritakan Nuh yang memberikan persembahan setelah selamat dari murka Allah dengan air bah-Nya (Kej. 8: 20 - 22). Abraham setelah tiba di Kanaan langsung membangun mezbah dan memanggil nama Tuhan (Kej. 12: 8). Yakub juga memberikan persembahan kepada Tuhan setelah berpisah baik-baik dengan Laban mertuanya (Kej. 31: 43-55). Semua pemberian ini dilakukan dalam ritual ketika hukum Taurat belum diberikan kepada umat Israel. Allah melalui Musa kemudian meneguhkan lebih spesifik lagi berbagai jenis persembahan yang harus diberikan umat Israel sebagaimana diuraikan dalam kitab Imamat pasal 1 - 7. Persembahan atau korban dalam Perjanjian Lama dapat dikelompokkan sbb:
a.       Ola, yakni korban bakaran (Im.1: 1-17), sebagai lambang penderitaan sebagai hukuman karena dosa yang ditanggungkan atasnya, dengan makna membersihkan kehidupan orang yang memberi korban dalam ketaatan sebagai bau-bauan yang harum bagi Allah.
b.      Minkha, yakni korban sajian (Im.2:1-16; 5:11-12), sebagai rasa syukur yang diberikan demi kemauan baik sebagai pengganti keseluruhan dirinya.
c.       Khatta't, yakni korban penghapus dosa dan juga disebut sebagai ‘Asyam (korban penebus salah), yakni bilamana seseorang bersalah karena dianggap najis dari segi upacara agama atau berbuat dosa secara tidak sengaja (Im. 4: 2, 13, 22, 27).
d.      Zevakh dan Selamin, yakni korban perdamaian atau korban keselamatan berupa pernyataan syukur atau sukarela kepada Allah (Im. 7: 12; 22: 29; Bil.6: 14; 15: 3, 8).
Perjanjian Lama juga mengenal berbagai jenis persembahan lainnya, seperti persembahan sulung atau buah sulung (Kej. 4:4; Im. 2: 12; Neh.10: 35), persembahan unjukan (Im. 6: 20; Bil. 5: 15), dan persembahan persepuluhan berupa persembahan khusus yakni sepersepuluh dari penghasilan umat Israel. Persembahan atau korban yang disebutkan di atas, dinyatakan dengan pemberian hewan ternak (dari mulai lembu jantan hingga burung tekukur atau anak burung merpati yang tidak bercela), tepung, minyak, kemenyan, dan garam. Inilah ritual pemberian persembahan dalam Perjanjian Lama.
Berbeda dengan yang dijelaskan di atas, Perjanjian Baru menegaskan pemberian persembahan berupa ternak atau barang lainnya bukan lagi sebagai jalan penebusan dosa atau kesalahan umat percaya. Kitab Ibrani menuliskan dengan jelas, "tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba betina dapat menghapus dosa" (Ibr. 10: 4). Penebusan dosa orang percaya dalam Perjanjian Baru hanya dapat dilakukan melalui iman dengan mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya; maka melalui tubuh dan darah-Nya yang tersalib di Golgota hal itu sudah menjadi jalan penebusan dosa-dosa kita.
Namun, Perjanjian Baru tidak langsung meniadakan persembahan sama sekali. Persembahan dalam konsep Perjanjian Baru menjadi berbeda, tidak lagi sebagai korban, melainkan sebagai ungkapan rasa syukur atas anugerah keselamatan yang telah diberikan Tuhan kita atas penebusan dosa tersebut. Artinya, pemberian tersebut adalah sebagai ungkapan syukur, bukan balas jasa, karena anugerah keselamatan yang diberikan Allah adalah cuma-cuma, tidak dapat dibalas dengan perbuatan atau upaya manusia. Jadi pengertian "membalas kebaikan Tuhan" sebagaimana dalam Mazmur di atas, dalam konteks Perjanjian Baru adalah merupakan respon atas rasa syukur penebusan tersebut, bukan dalam pengertian timbal balik.
Selanjutnya, persembahan di dalam kitab Perjanjian Baru cukup luas pembahasannya dan dapat dikategorikan dalam lima bentuk, yakni sbb:
Pertama, persembahan nyawa. Tuhan Yesus berkata bahwa inilah ungkapan kasih yang lebih besar dari umat percaya, yakni apabila seseorang yang mengorbankan nyawa untuk kemuliaan Kristus maupun untuk saudara-saudara kita (Mat. 10: 39; Luk. 14: 26; Yoh. 15: 13; Kis. 15: 26). Hal ini diperlihatkan dalam kisah Stefanus, martir pertama yang dibunuh oleh kaum Farisi dengan melemparinya dengan batu (Kis. 7: 54 - 60). Kesediaan berkorban dan menderita bagi orang lain dengan mengesampingkan kepentingan diri sendiri, itulah makna dari persembahan nyawa tersebut.
Kedua, persembahan tubuh, yakni memelihara kekudusan hidup dengan menjauhkan diri dari perbuatan najis dan dosa yang tidak berkenan kepada Tuhan. Firman-Nya berkata, "Karena itu saudara-saudara, demi kemurahan Allah, aku menasehatkan kamu, supaya kamu mempersembahan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati" (Rm. 12:1; Yak. 1: 27b).
Ketiga, persembahan hati dan mulut, dengan menaikkan puji-pujian dan bibir yang memuliakan Allah dengan ucapan syukur (Ibr. 13: 15; Mzm. 28: 7; 30: 4; 51: 19). Kitab Efesus menuliskan, "dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian, dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati" (Ef.  5: 19 - 20).
Keempat, persembahan waktu dan tenaga, dengan mengunjungi orang sakit, orang di penjara, dan memberi mereka yang haus dan tumpangan (Mat. 25: 31 - 46). Yakobus menuliskan, "Ibadah yang murni dan tidak bercatat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka (Yak. 1: 27a). Terlebih-lebih, meski tidak utama, apabila kita ikut meringankan beban kesedihan mereka dengan memberi bantuan (makanan atau kebutuhan hidup lainnya), sehingga dengan jalan itu kita telah memuliakan Allah.
Kelima, persembahan materi, berupa persembahan uang atau barang. Perjanjian Baru mengajarkan untuk menyisihkan persembahan uang setiap minggu.  Inilah biasanya yang kita berikan kepada gereja untuk dikelola sesuai dengan maksud Yesus dalam mendirikan dan memperluas kerajaan-Nya (1Kor. 16: 1-2).

Saudara-saudari Kekasih Kristus, karena kita telah diselamatkan dari dosa melalui kematian Kristus di Golgota dan juga oleh karena Ia telah menjaga, memelihara dan memberkati hidup kita maka marilah kita dengan rela hati dan jiwa kita dan dengan bersyukur kepada Tuhan mempersembahkan apa yang ada pada kita kepada Tuhan dengan setia dan penuh ketaatan kepada-Nya. Barang siapa yang taat mengerjakan tugas iman ini, ia akan melihat betapa besar kasih dan anugerah Tuhan akan terus mengalir berlimpah-limpah dalam hidupnya. Amin.



Para Pendeta sedang sharing (dengar pendapat) tentang Bahan Khotbah yang akan dikhotbahkan

0 komentar:

Poskan Komentar

Penggemar Blog